MA ALMUAYYAD III TEGOWANU
GUDEP 18.063-18.072

KH. HASYIM ASY’ARI
Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian
belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari (lahir di Desa
Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten
Jombang, Jawa Timur, 10 April
1875 – meninggal
di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H-
6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang)
adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan
pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.
Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus
Syeikh yang berarti maha guru.
Keluarga
K.H
Hasjim Asy'ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara [1].
Ayahnya bernama Kyai Asy'ari, pemimpin Pesantren Keras yang
berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sementara kesepuluh
saudaranya antara lain: Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah,
Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu,
K.H. Hasjim Asy'ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang
Jaka Tingkir
juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja
Brawijaya V (Lembupeteng). Berikut silsilah berdasarkan K.H. Hasjim
Asy'ari berdasarkan garis keturanan ibu:
Hasjim
Asy'ari putra Halimah putri Layyinah putri Sihah Putra
Abdul Jabar putra Ahmad putra Pangeran Sambo putra Pengeran
Benowo putra Joko Tingkir
(Mas Karebet) putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng)[2]
Ia
menikah tujuh kali dan kesemua istrinya adalah putri dari ulama. Empat istrinya
bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Salah seorang putranya, Wahid Hasyim
adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri
Agama,[3]
sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Indonesia.
Pendidikan
K.H. Hasjim
Asy'ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga
pemimpin Pesantren Nggedang di
Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren,
antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo,
Pesantren Langitan
di Tuban,
Pesantren Trenggilis di
Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan
dan Pesantren Siwalan di
Sidoarjo.
Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy'ari
pergi menimba ilmu ke Mekah,
dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh
at-Tarmisi, Syekh Ahmad
Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki,
Sayyid Alwi
bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein
Al-Habsyi.
Di Makkah,
awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar dibawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas
(Pacitan)
yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori
di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat
belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia
sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung
dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syaikh Mahfudz
merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23
generasi penerima karya ini.[4].
Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat
Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
K.H. Hasjim
Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau
yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu
hisab), dan aljabar. Di masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H.
Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad
Abduh. Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh
akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.
Gurunya yang
lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi
al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang
merupakan ulama terkenal pada masa itu[5].
Perjuangan
Pada
tahun 1899,
sepulangnya dari Mekah,
K.H. Hasjim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi
pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.
Pada
tahun 1926,
K.H Hasjim Asy'ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti
kebangkitan ulama.
Karya dan pemikiran
K.H.
Hasjim Asy'ari banyak membuat tulisan dan catatan-catatan. Sekian banyak dari
pemikirannya, setidaknya ada empat kitab karangannya yang mendasar dan
menggambarkan pemikirannya; kitab-kitab tersebut antara lain:
- Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid'ah)
- Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW)
- Adab al-alim wal Muta'allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta'limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar)
- Al-Tibyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan)[6]
- Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran
dasar
dia tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang
menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi
“bacaan wajib” bagi para pegiat NU.
- Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah
dan
Imam Ahmad bin Hanbal tentunya memiliki makna khusus. Mengapa akhirnya
mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut? Temukan jawabannya di kitab ini.
- Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di
masyarakat.
Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara
massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk
diterbitkan di majalah Panji Masyarakat edisi 15 Agustus 1959.
- Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Hidup
ini
tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta
memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai
pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman
bagi warga NU.
- Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat Merupakan kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.
DEWI MASYITHOH
Sahabat kisah ini sudah
hampir dilupakan oleh kalangan ummat islam, anak-anak generasi muda saat ini
saya yakin mereka tidak pernah dengar kisah yang sangat memberikan inspirasi
besar dalam kehidupan, bagaimana keteguhan dan keyakinannya menjadikan ia
wanita yang mulia disisi Allah SWT. Siapa wanita mulia tersebut dialah Siti
Masyitoh yang hidup pada zaman Fir’aun dan sekaligus
menjadi pembantu mengurus anak-anaknya Fir’aun. Berikut Kisahnya ;
“Apa, di dalam kerajaanku
sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah
mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula
ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba
sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga
terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.
“Baru saja aku menerima laporan
dari Hamman, mentriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini
pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si
Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.
“Panggil Masyitoh kemari,”
perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan
tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah
senantiasa menyertainya.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.
“Benar,” jawab Masyitoh mantap.
“Kamu tahu akibatnya? Kamu
sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti
Masyitoh.
“Saya memutuskan untuk memeluk
agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”
“Masyitoh, apa kamu sudah gila!
Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”
“Lebih baik mati daripada hidup
dalam kemusyrikan.”
Melihat sikap Masyitoh yang
tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya
agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.
“Siapkan sebuah belanga besar,
isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.
Ketika semua keluarga Siti
Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.
“Masyitoh, kamu lihat belanga
besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan
kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk
menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak
fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”
Mendengar kalimat terakhir yang
diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang
dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak
bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil
dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya
yang lain mengucap.
Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.
Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.
Allah pun membuktikan janji-Nya
pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti
Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah
terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air
dalam belanga itu.
Demikianlah kisah seorang wanita
shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun
dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.
Ketika Nabi Muhammad Saw. isra
dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium
aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu, Jibril?”
tanya baginda Nabi.
“Itu adalah kuburan seorang
wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.
Ambalan KH. Hasyim Asy'ari dan Dewi Masyithoh MA Al-Muayyad III Tegowanu
Gudep 18.062-18.073 Insya Allah akan mencuri suri tauladan
beliau-beliau yang kami buat simbolis nama Ambalan kita, Amien ya Robbal
Alamien....
